Sabtu pagi di Antapani. Pak Budi, kontraktor renovasi rumah, baru kelar bongkar kamar mandi dan dapur punya klien. Hasilnya? Tumpukan puing kira-kira enam kubik nangkring di depan pagar: pecahan bata, beton, keramik, sisa plester. Tetangga mulai nanya kapan diangkut. Kalau mau dibuang, Pak Budi harus nyari truk, bayar ongkos angkut, terus masih mikir lagi: dibuang ke mana?

Di waktu yang sama, belasan kilometer ke arah timur, Bu Sari lagi berdiri di pinggir lahan kosongnya di Cileunyi. Lahannya lebih rendah dari jalan, jadi tiap hujan airnya ngegenang. Tukang yang dia tanya bilang lahan itu perlu diurug kira-kira tiga puluh kubik. Beli tanah urug? Lumayan bikin dompet meringis.

Pak Budi punya sesuatu yang Bu Sari butuh. Bu Sari butuh sesuatu yang Pak Budi punya. Masalahnya cuma satu: mereka gak saling kenal.

Nah, urugin.id lahir buat nyambungin cerita-cerita kayak gini.

Pak Budi, Bu Sari, dan tokoh-tokoh lain di artikel ini fiktif, dan latar Bandung sengaja dipilih biar ceritanya gampang dibayangin. urugin.id sendiri bisa dipakai di seluruh Indonesia. Masalahnya pun nyata banget, dan mungkin lagi kamu alami sekarang, di kota mana pun kamu tinggal.

Puing itu sebenarnya bukan sampah

Tiap ada rumah yang direnovasi, ada sisa yang ikut keluar: puing, kayu bekisting, besi bekas, kusen yang masih bagus, sampai sisa semen dan keramik yang belum kepakai. Buat yang punya, semua itu sering terasa kayak beban. Harus dibersihin, harus diangkut, harus keluar ongkos.

Padahal buat orang lain, barang yang sama justru dicari:

  • puing dan pecahan bata dicari buat urugan lahan,
  • besi tua dan seng dicari pengepul rongsok,
  • kusen dan pintu bekas yang masih kokoh bisa dipasang lagi,
  • sisa semen dan keramik masih kepakai buat renovasi kecil.

Belum lagi orang-orang yang hidupnya dari dunia bangunan: sopir truk angkut, tukang, penyewa alat berat, jasa bongkar dan urug. Mereka butuh order. Selama ini infonya kesebar di mana-mana: grup WhatsApp, mulut ke mulut, atau tulisan "Terima Urugan" di pinggir jalan. Yang punya barang susah nemuin yang butuh, dan sebaliknya.

Namanya juga dekat sama dunia bangunan: urug artinya menimbun atau meninggikan tanah. Dari situ juga ide awalnya: brangkal dan puing yang tadinya jadi beban buang, bisa jadi material urug yang berguna buat orang lain. Sekarang urugin.id ngelebarin ide itu ke sepuluh kategori, dari material sampai jasa.

Jadi, urugin.id itu apa?

urugin.id adalah tempat ketemunya yang punya dan yang butuh di dunia bangunan dan renovasi, dan bisa dipakai di mana aja di Indonesia. Cara kerjanya sederhana:

  • Yang punya atau nawarin sesuatu (namanya Penyedia) bikin posting Penawaran. Misalnya Pak Budi nawarin puing bongkaran.
  • Yang butuh sesuatu (namanya Pencari) bikin posting Kebutuhan. Misalnya Bu Sari nyari urugan buat lahannya.
  • Orang lain yang cocok tinggal ngajuin ke posting itu. Pemilik posting milih satu pengaju, terus mereka ngobrol dan atur waktu lewat WhatsApp.

Satu akun bisa jadi dua-duanya, kok. Hari ini Pak Budi posting Penawaran puing, besok dia bisa posting Kebutuhan karena lagi nyari truk angkut. Gak ada pilihan "peran" yang mengikat waktu daftar.

Sekilas tampilan urugin.id: Beranda dengan peta, detail posting, dan halaman Aktivitas

Semua posting muncul di peta, jadi kamu bisa langsung lihat apa yang ada di sekitar lokasi kamu. Di cerita kita: puing di gang sebelah, truk angkut yang mangkal di Ujungberung, atau tukang di Margahayu. Di kota kamu, tinggal geser petanya.

Beberapa hal penting biar gak salah paham dari awal:

  • urugin.id bukan perantara pembayaran. Soal harga dan bayar-membayar diobrolin langsung antar pengguna. urugin.id gak motong apa-apa.
  • Nomor WhatsApp baru kebuka setelah ajuan diterima. Jadi kamu gak bakal dibanjiri chat dari orang yang sekadar iseng.

10 kategori di urugin.id

Biar gampang dicari, setiap posting masuk ke salah satu dari sepuluh kategori ini:

10 kategori di urugin.id

  1. Puing Bangunan. Bongkaran bata, beton, keramik, genteng pecah, sisa plester. Kategori yang paling sering dicari buat urugan lahan.
  2. Limbah Kayu. Sisa kayu bekisting, potongan kaso dan papan. Bisa jadi kayu bakar, bahan rak, atau kerajinan.
  3. Rongsokan. Besi tua, seng bekas, kabel, aki bekas. Lapaknya para pengepul.
  4. Barang Bekas. Kusen, pintu, jendela, genteng, atau perabot bangunan yang masih layak dipasang lagi.
  5. Bahan Bangunan Baru. Sisa proyek yang masih segel: semen, keramik, cat, pasir. Daripada numpuk di gudang, mending dilepas ke yang butuh.
  6. Lahan. Lahan yang butuh diurug, atau lahan yang siap nampung urugan.
  7. Alat Berat. Sewa excavator mini, baby roller, dan alat berat lain, harian atau borongan.
  8. Jasa Angkut. Pickup, truk engkel, dump truck. Buat ngangkut puing, material, atau barang bongkaran.
  9. Jasa Tukang. Tukang bongkar, pasang bata, keramik, plester, harian atau borongan.
  10. Jasa Bongkar-Urug. Paket lengkap: bongkar bangunan, terus urug dan ratain lahannya sekalian.

Gak ada kolom harga atau satuan yang ribet. Jumlah, kondisi, harga, atau tarif cukup ditulis bebas di deskripsi posting, misalnya "puing bongkaran ±6 m³, siap diangkut" atau "tarif per rit, nego".

Gimana cara kerjanya?

Kita lanjutin ceritanya. Pak Budi akhirnya posting puingnya di urugin.id: kategori Puing Bangunan, foto tumpukannya, titik lokasinya di peta, dan deskripsi singkat. Gak sampai sehari, notifikasinya bunyi: ada tiga orang yang ngajuin. Salah satunya Bu Sari.

Dari sini, setiap transaksi jalan lewat empat tahap yang sama:

Alur transaksi di urugin.id: Persetujuan, Penjadwalan, Penyelesaian, Selesai

  1. Persetujuan. Para pengaju ngirim pesan (dan foto kalau perlu). Pak Budi baca satu-satu, cek profil dan rating mereka, lalu menerima satu orang. Pengaju lain otomatis masuk antrian cadangan.
  2. Penjadwalan. Begitu diterima, tombol WhatsApp kebuka di dua sisi. Bu Sari dan Pak Budi ngobrol soal teknis, lalu Bu Sari mengisi estimasi jadwal pengambilan di aplikasi.
  3. Penyelesaian. Hari H, truk datang, puing diangkut. Pak Budi menandai job Selesai, bisa sambil nambahin catatan dan foto bukti.
  4. Selesai & rating. Pak Budi dan Bu Sari saling kasih rating bintang dan ulasan. Rating ini nempel di profil masing-masing, jadi makin sering transaksi lancar, makin dipercaya orang.

Cara ini juga bisa dibalik. Bu Sari bisa duluan posting Kebutuhan "butuh urugan ±30 m³", terus Pak Budi, Mang Ujang si sopir truk, atau Pak Yayat yang buka jasa urug yang ngajuin ke posting Bu Sari. Mekanismenya sama persis, di kesepuluh kategori.

Kalau di tengah jalan ada yang batal, tenang. Pengaju lain yang tadinya masuk antrian otomatis aktif lagi, jadi pemilik posting tinggal milih ulang tanpa nunggu orang ngajuin dari nol.

Hal-hal kecil yang bikin nyaman

Selain alur utama tadi, ada beberapa fitur yang bakal kerasa banget manfaatnya:

  • Titik Acuan. Simpan lokasi rumah, gudang, atau tempat mangkal kamu, biar peta langsung nunjukin posting yang paling dekat.
  • Pesan ajuan + foto. Pengaju wajib nulis pesan, jadi pemilik posting bisa milih yang paling meyakinkan, bukan sekadar yang paling cepat.
  • Rating dua arah. Pemilik posting dan pengaju saling menilai, dan riwayatnya kelihatan di profil publik.
  • Laporkan. Ketemu yang gak beres, misalnya janjian tapi gak datang? Setelah ngasih rating rendah, kamu bisa melapor dan admin bakal meninjau.
  • Notifikasi. Ada ajuan baru, ajuan diterima, jadwal masuk, semuanya dikabarin. Bisa juga dinyalain notifikasi langsung ke HP.
  • Bisa dipasang kayak aplikasi. urugin.id bisa diinstal ke layar utama HP, jadi bukanya secepat aplikasi biasa.
  • Masa tayang 7 hari. Setiap posting tampil di peta selama tujuh hari, biar isinya selalu segar. Masih butuh? Tinggal klik Perpanjang.
  • Ajak teman. Bagikan link atau kode ajakan dari halaman Profil, dan kamu dapat voucher tiap ajakan berhasil.

Spoiler: serial panduan urugin.id

Artikel ini baru perkenalan. Di serial Panduan urugin.id, kita bakal ngikutin Pak Budi, Bu Sari, Mang Ujang, Teh Rina, dan kawan-kawan, langkah demi langkah, lengkap dengan tangkapan layar:

  1. Bikin Akun & Lengkapi Profil. Daftar pakai email atau Google, terus kenapa nomor WhatsApp wajib diisi.
  2. Jelajah Beranda. Baca peta, bedain pin Penawaran dan Kebutuhan, pakai filter kategori, dan atur Titik Acuan.
  3. Bikin Posting Pertama. Milih kategori, nentuin titik lokasi, nulis deskripsi yang menarik, foto, sampai simpan sebagai draft.
  4. Ngajuin ke Posting Orang. Cara nulis pesan ajuan yang bikin pemilik posting yakin milih kamu.
  5. Milih Pengaju yang Pas. Tiga orang ngajuin, pilih yang mana? Cek pesan, foto, profil, dan rating.
  6. Dari WhatsApp sampai Hari H. Ngatur jadwal, tahap Penyelesaian, dan menandai job selesai.
  7. Rating, Ulasan & Profil Publik. Kenapa bintang lima itu berharga, dan gimana orang lain melihat reputasimu.
  8. Kalau Ada yang Batal. Aturan mainnya di setiap tahap, plus antrian otomatis yang hidup lagi.
  9. Laporkan & Tips Aman Bertransaksi. Biar gak ketemu yang nakal, dan kalau ketemu, tahu harus ngapain.
  10. Masa Tayang, Perpanjang, Edit & Draft. Kenapa posting bisa "hilang" dari peta dan cara munculin lagi.
  11. Biar Makin Nyaman. Notifikasi, pasang aplikasi di HP, izin lokasi, dan ajak teman dapat voucher.

Yuk, mulai!

Punya puing yang numpuk di depan rumah? Lagi nyari urugan, truk angkut, tukang, atau alat berat? Atau kamu sendiri yang buka jasanya dan lagi nyari order?

Daftar di urugin.id, cukup pakai email atau akun Google. Mau lihat alurnya dulu? Cek halaman Cara Kerja.

Punya pertanyaan, saran, atau nemu yang kurang? Kirim email ke saran@urugin.id, dibaca langsung kok.

Sampai ketemu di artikel berikutnya, waktu Pak Budi bikin akun pertamanya.