Pak Budi lagi pusing sama tumpukan puing ±6 kubik di depan rumah kliennya di Antapani: pecahan bata, beton, keramik, sisa plester. Bu Sari di Cileunyi lagi pusing juga, lahannya butuh urugan. Begitu mereka ketemu di urugin.id, rasanya pas banget.

Tapi waktu truk pertama mau berangkat, tetangga Bu Sari nyeletuk, "Puing buat urugan? Nanti turun lho, Bu. Lantainya ambles."

Bener gak, sih? Artikel ini ngebahas urugan puing bangunan: boleh gak dipakai buat lahan rumah, kapan aman, kapan harus hati-hati, puing kayak apa yang jangan, dan cara masangnya biar gak ambles. Ini bagian dari panduan mengurug tanah sebelum bangun rumah.

Pak Budi, Bu Sari, dan tokoh lain di artikel ini fiktif, dan latar Bandung dipilih biar ceritanya gampang dibayangin. urugin.id bisa dipakai di seluruh Indonesia.

Jawaban singkatnya: boleh, asal tempatnya pas & caranya bener

Puing bangunan (sering disebut brangkal) itu bahan keras: bata, beton, genteng, keramik. Gak busuk kayak sampah organik. Makanya dari dulu orang make puing buat ngurug, dan banyak jasa urug yang nawarin "urugan puing".

Masalahnya bukan di puingnya, tapi di dua hal:

  1. Rongga. Bongkahan puing gak nempel rapat satu sama lain. Kalau celahnya gak diisi dan gak dipadatin, lama-lama bagian atasnya turun ngisi rongga. Inilah yang bikin "nanti ambles".
  2. Campuran. Puing bongkaran sering kecampur kayu, plastik, kertas semen, gipsum, bahkan atap asbes. Bahan-bahan ini yang bikin urugan jelek.

Jadi yang harus dijaga: puingnya bersih, celahnya diisi, dan dipadatin per lapis.

Kapan puing aman dipakai

Puing bangunan untuk urugan: cocok buat halaman, jalan setapak, dan cekungan; hati-hati di bawah lantai dan pondasi rumah

Cocok:

  • Halaman, carport, jalan setapak, atau area yang gak ada bangunan berat di atasnya.
  • Ngisi cekungan atau bekas galian di lahan yang belum dibangun.
  • Lapisan paling bawah urugan tebal, ditutup bahan lain di atasnya.

Hati-hati (tanya tukang/ahli dulu):

  • Langsung di bawah lantai rumah atau pondasi. Bisa aja, tapi harus dipasang bener: bongkahan dipecah, celah diisi, dipadatin per lapis. Kalau asal ditumpuk, risiko lantai turun lebih gede.
  • Rumah bertingkat atau bangunan berat. Urugan di bawahnya perlu perhitungan, bukan kira-kira.

Proyek pemerintah malah biasanya lebih ketat. Spesifikasi timbunan jalan Bina Marga minta bahan galian tanah atau batu yang disetujui pengawas, dan beberapa dokumen proyek pemerintah ngelarang bahan bekas bongkaran dipakai lagi, karena kualitasnya susah dikontrol. Buat rumah tinggal biasa aturannya gak seketat itu, tapi alasannya sama: puing yang gak jelas isinya bikin hasil urugan gak jelas juga.

Kabar baiknya, puing bisa diolah. Penelitian di Universitas Negeri Jakarta nemuin puing beton murni belum cukup kuat buat lapis pondasi jalan, tapi setelah dicampur kapur kekuatannya naik jauh. Intinya: puing itu bahan yang berguna, asal gak dipakai mentah-mentah.

Puing yang jangan dipakai buat urugan

Pilah dulu sebelum diangkut. Yang ini jangan ikut masuk urugan:

  • Kayu: kusen, bekisting, kaso. Kayu bakal lapuk dan ninggalin rongga. Kalau masih bagus, mending dijual atau dikasih (kategori Limbah Kayu atau Barang Bekas di urugin.id).
  • Plastik, kertas semen, kain, sampah rumah tangga.
  • Gipsum (plafon, partisi). Kalau basah dan ketimbun, gipsum bisa ngeluarin gas bau busuk (hidrogen sulfida).
  • Atap asbes. Debunya berbahaya kalau dipecah. Jangan dicampur ke urugan dan jangan dipecah-pecah. Tanyain ke Dinas Lingkungan Hidup setempat gimana cara buangnya.
  • Besi dan kabel. Bukan bahaya, tapi sayang: ini laku ke pengepul (kategori Rongsokan).

Spesifikasi daur ulang puing di luar negeri juga gitu: kayu, gipsum, plastik, dan logam cuma boleh ada sedikit banget, dan asbes gak boleh sama sekali.

Cara pakai puing biar gak ambles

  1. Pilah. Pisahin kayu, plastik, gipsum, asbes, besi. Yang masuk urugan cuma bata, beton, genteng, keramik, plester.
  2. Pecah bongkahan yang gede. Bongkahan beton segede meja itu ninggalin rongga gede di bawahnya.
  3. Tebar per lapis, jangan sekaligus. Lapisan tipis lebih gampang dipadatin daripada tumpukan setinggi lutut.
  4. Isi celahnya pakai tanah, sirtu, atau pasir urug. Siram dikit biar bahan pengisinya turun ngisi rongga.
  5. Padatin tiap lapis pakai stamper atau baby roller. Caranya di cara memadatkan tanah urug.
  6. Tutup lapisan atas pakai tanah atau sirtu, apalagi kalau mau ditanemin rumput atau dibikin lantai.

Tips Pak Budi: puing yang paling enak buat urugan itu puing yang udah dipilah dari awal pas bongkar. Begitu kecampur kayu dan sampah, misahinnya capek. Kalau kamu yang punya puing, pilah di tempat, dan tulis jujur isinya pas nawarin.

Hemat buat dua pihak

Buat yang punya puing, ngasih ke yang butuh urugan berarti gak perlu mikir puingnya dibuang ke mana. Buat yang butuh urugan, puing bersih bisa nekan biaya material (komponen biaya urugan dibahas di biaya urug tanah). Siapa yang bayar angkut, itu diobrolin berdua.

Akhirnya, puing Pak Budi dipakai buat lapisan bawah halaman dan alas gudang kecil Bu Sari, ditutup tanah merah di atasnya. Celahnya diisi, dipadatin per lapis sama Pak Yayat. Tetangga yang tadinya ragu malah nanya, "Bu, kalau ada puing lagi, kabarin ya."

Nawarin atau nyari puing di urugin.id

  • Punya puing? Bikin posting Penawaran kategori Puing Bangunan. Tulis isinya (bata, beton, keramik), kira-kira berapa kubik, udah dipilah atau belum, dan bisa diangkut kapan.
  • Butuh urugan? Cari pin ungu kategori Puing Bangunan di peta Beranda, atau bikin posting Kebutuhan.
  • Butuh truk? Cari kategori Jasa Angkut.

Caranya ada di cara posting di urugin.id. Belum punya akun? Daftar di urugin.id, cukup pakai email atau akun Google.