Bu Sari berdiri di pinggir lahannya di Cileunyi, megang meteran gulung yang baru dibeli di toko bangunan. Lahannya 8 × 15 meter, lebih rendah dari jalan, dan tiap hujan airnya ngegenang. Tukang yang lewat bilang, "Kira-kira butuh tiga puluh kubik, Bu."
"Tiga puluh kubik itu berapa truk, Pak Yayat?" tanya Bu Sari waktu Pak Yayat, jasa bongkar-urug langganan Pak Budi, mampir ngecek.
Pak Yayat nyengir. "Tergantung tanahnya apa, Bu. Tanah merah sama pasir itu beda hitungannya. Sini, kita ukur dulu."
Artikel ini ngebahas cara menghitung urugan tanah: rumus dasarnya, cara ngukur lahan yang gak rata, kenapa tanah yang dateng di truk harus dilebihin, sampai kira-kira butuh berapa truk. Ini bagian dari panduan mengurug tanah sebelum bangun rumah.
Bu Sari, Pak Yayat, dan tokoh lain di artikel ini fiktif, dan latar Bandung dipilih biar ceritanya gampang dibayangin. Cara ngitungnya sama di kota mana pun.
Rumus dasar: panjang × lebar × tebal
Volume urugan itu volume "lubang" yang mau diisi, sampai ke ketinggian yang kamu mau:
Volume (m³) = panjang (m) × lebar (m) × tebal urugan (m)
Tebal urugan = selisih tinggi tanah sekarang sama tinggi yang dituju. Biasanya patokannya permukaan jalan, ditambah sedikit biar air hujan gak balik masuk.
Lahan Bu Sari: panjang 15 m, lebar 8 m, rata-rata 25 cm lebih rendah dari yang dia mau.
15 × 8 × 0,25 = 30 m³
Hati-hati satuan: 25 cm itu 0,25 m, bukan 25. Salah satu kesalahan paling sering ya di sini.
Lahan gak rata? Bagi jadi petak
Lahan beneran jarang rata kayak meja. Sebelah sini dalem, sebelah sana cuma sejengkal. Kalau cuma ngukur satu titik, hitungannya bisa meleset jauh.
Caranya:
- Pasang patokan tinggi. Bentangin benang dari patok ke patok setinggi permukaan yang kamu mau (misalnya sejajar jalan). Pakai selang air atau waterpass biar benangnya beneran datar.
- Bagi lahan jadi petak-petak sama besar, misalnya tiap 2,5 × 2,5 meter atau 3 × 3 meter.
- Ukur jarak dari benang ke tanah di tiap sudut petak.
- Rata-ratain semua angka itu, terus kali luas lahan.

Bu Sari dapet angka antara 10 cm sampai 40 cm. Rata-ratanya 25 cm, jadi tetap 30 m³. Kalau dia cuma ngukur di bagian paling dalam (40 cm), hitungannya jadi 48 m³. Kelebihan 18 kubik, itu bisa beberapa truk yang gak perlu dibayar.
Tips Pak Yayat: makin kecil petaknya, makin akurat. Buat lahan rumah biasa, petak 2–3 meter udah cukup. Lahan yang gede banget atau beda tingginya sampai semeter lebih, mending minta diukur pakai alat ukur (waterpass atau theodolite) sama jasa urug atau tukang ukur.
Kenapa harus dilebihin? Tanah lepas vs tanah padat
30 m³ tadi itu volume setelah dipadatin. Masalahnya, tanah yang dateng di bak truk itu kondisinya lepas: gembur, banyak rongga udara. Begitu ditebar dan dipadatin, volumenya nyusut.
Jadi yang kamu pesen harus lebih banyak dari 30 m³. Seberapa banyak? Tergantung jenis tanahnya.
Kementerian PU punya tabel resmi soal ini di lampiran acuan penyusunan analisis harga satuan pekerjaan (AHSP), namanya faktor pemampatan (Fk). Angka buat kondisi lepas ke padat:
| Jenis tanah | Fk lepas → padat | Artinya: 1 m³ padat butuh tanah lepas kira-kira |
|---|---|---|
| Pasir | 0,86 | ±1,16 m³ |
| Tanah liat berpasir | 0,72 | ±1,39 m³ |
| Tanah liat | 0,63 | ±1,59 m³ |
Sumber Fk: Lampiran II SE Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PU No. 47 Tahun 2026, Tabel A.1. Kolom kanan = 1 ÷ Fk, dibulatin.
Banyak hitungan di internet pukul rata "dikali 1,2" buat semua tanah. Buat pasir dan sirtu itu masih masuk akal. Tapi buat tanah merah yang lengket (lempung), angka resmi PU nunjukin kebutuhannya bisa sampai ±1,6 kali. Pesen pakai pengali 1,2, ujung-ujungnya kurang dan harus pesen lagi.
Kebutuhan Bu Sari, 30 m³ padat:
- kalau pakai pasir urug: 30 × 1,16 ≈ 35 m³ lepas
- kalau pakai tanah merah lempung: 30 × 1,59 ≈ 48 m³ lepas
Bedanya 13 kubik, padahal lahannya sama. Makanya pertanyaan pertama Pak Yayat: "tanahnya apa?" Bedanya tiap bahan dibahas di artikel jenis tanah urug.
Catatan: tabel PU itu angka acuan buat proyek, kondisi tanah di lapangan bisa beda. Kalau ragu, tanya penyedia tanahnya: tanah dari galian mana, lengket atau berpasir. Lebih aman lebihin dikit daripada kurang.
Berapa truk? Ukur baknya
"1 truk berapa kubik" gak ada jawaban pasti, karena ukuran bak tiap truk beda-beda, bahkan buat jenis truk yang sama. Cara paling akurat: ukur bak truknya sendiri.
Isi bak (m³) = panjang bak × lebar bak × tinggi isian
Ukur bagian dalam bak. Tinggi isian = setinggi apa tanahnya diisi (rata bibir bak, atau kurang).
Contoh ilustrasi: bak dalam 3 m × 1,8 m, diisi rata setinggi 0,6 m → 3 × 1,8 × 0,6 = 3,24 m³.
Terus tinggal bagi:
Jumlah rit = kebutuhan tanah lepas ÷ isi 1 bak
Bu Sari pakai tanah merah (48 m³ lepas), truknya isi 3,24 m³ per rit → 48 ÷ 3,24 ≈ 14,8, dibulatin ke atas jadi 15 rit. Pakai pasir urug (35 m³) cuma butuh 11 rit.
Hati-hati juga sama contoh hitungan yang beredar. Ada yang nulis bak 2,4 × 1,6 × 1,5 m = 6,48 m³. Hitungan yang bener 5,76 m³. Selisih kecil kayak gini, kalau dikali puluhan rit, jadi beberapa truk.
Tips Pak Yayat: jangan cuma nanya "berapa kubik per rit". Minta sopir kirim foto bak yang udah keisi, atau ukur pas truk pertama dateng. Truk yang diisi munjung (numpuk melebihi bibir bak) kelihatannya banyak, tapi muatannya jadi berat dan gak semua truk boleh bawa segitu. Tanah basah juga jauh lebih berat dari tanah kering.
Ringkasan: 5 langkah ngitung urugan
- Ukur panjang × lebar lahan.
- Bentangin benang di ketinggian tujuan, ukur tebal urugan di banyak titik, rata-ratain.
- Kali: panjang × lebar × tebal rata-rata = m³ padat.
- Kali faktor tanah lepas sesuai jenis tanahnya (±1,16 pasir sampai ±1,59 tanah liat) = m³ yang dipesen.
- Ukur bak truk, bagi = jumlah rit.

Udah tahu kubiknya? Langkah berikutnya ngitung ongkosnya. Komponen biayanya dibahas di artikel biaya urug tanah & harga per truk.
Nyari tanah urug atau truk angkutnya
Dengan angka di tangan, Bu Sari bikin posting Kebutuhan di urugin.id. Isinya bukan cuma "butuh urugan", tapi:
"Butuh urugan ±30 m³ padat buat lahan 8 × 15 m di Cileunyi. Bisa tanah merah, sirtu, atau puing bersih. Akses truk engkel bisa masuk."
Posting yang jelas angkanya bikin yang nawarin langsung bisa ngitung. Ada beberapa kategori yang nyambung:
- Puing Bangunan: puing bongkaran yang bisa jadi bagian urugan (cek dulu boleh gak puing buat urugan).
- Jasa Angkut: truk buat ngangkut tanahnya.
- Jasa Bongkar-Urug: paket urug + ratain sekalian, kayak Pak Yayat.
Belum pernah posting? Ikutin cara posting di urugin.id. Belum punya akun? Daftar di urugin.id, cukup pakai email atau akun Google.
